Monday, January 11, 2016

Dilema Tulisan Dokter

 

Itu tulisan apa sandi rumput???”
“Ini Huruf hijaiyah negara mana???”
“Tangan lu habis kesleo ya Bro???”
“Tulisan lu bagus banget,mungkin harus dipamerin di musium lukisan abstrak”
“Tulisan opo ceker pitek iki??? (Tulisan apa ceker ayam ini???)”
Dll. . .

Sekilas pujian diatas menggambarkan betapa sengsaranya hidup para penulis tangan yang tulisannya,,ya,,boleh dibilang “kurang enak dibaca dan dipandang” dan biasanya pelaku utama nya adalah para laki laki yang tak terlalu telaten dalam hal menulis,sejujurnya saya sendiri juga menyadari tulisan saya ini juga ‘sangat bagus’ tapi maaf saja,saya tidak sombong untuk mengatakannya. . .

Masa masa sekolah adalah masa masa persaingan dalam hal pencitraan,,banyak hal yang kita lakukan untuk melakukan pencitraan dalam diri kita,salah satu medianya adalah dalam ‘TULISAN’ . Tulisan adalah citra pertama tapi mungkin bukan utama terhadap guru. Mereka yang tak berbakat dalam hal menulis tangan atau boleh disebut ringan tangan (karna mudahnya mereka meninggalkan pensil/pulpen mereka saat mereka harusnya mencatat) biasanya tak terlalu bersemangat dalam menulis karna saat selesai mencatat,mereka melihat catatan mereka dan mereka berharap akan bergumam “Tulisan ku sangat indah sekali,amboi dipandang,dibaca pun sangat nyaman,,besok akan ku bawa ke KUA dan kita akan hidup bahagia.” (itu ekspektasi). Tapi pada kenyataanya saat selesai menulis dan melihat hasil tulisan sendiri ,,  “KAMPREEETTTT,INI TULISAN SIAPA WOE!!!???,,”
(ini realitanya) dan setelah dia menyadari bahwa ‘prasasti’ (hasil catatan) yang dia lihat tadi adalah hasil karya nya sendiri, Dia stress lalu bunuh diri. Oya,,Sebelum bunuh diri dia Gila terlebih dahulu,kesurupan dan muntah sambil berak,,dan lalu berpupulang ke sisi Nya secara sangat wajar.

Terkadang Dilema lain dalam kehidupan yang lebih luas juga cukup mengejutkan,banyak diluar sana saat mereka menerima ‘pujian pahit’ yang dilontarkan seseorang untuk tulisan tangannya ,dia cukup cerdas untuk menangkisnya dengan “Hei,,kau tidak tahu tulisan dokter memang semacam ini,jadi jangan heran”.
. . . (hening sesaat). Mari kita lihat kasus nya,,Kepedean ini menunjukkan bahwa kita mungkin sudah terlalu jenuh dengan cacian dan makian hanya dikarnakan tulisan tangan kita yang ‘cukup mengganggu mata’. Tameng ‘Tulisan Dokter’ itu sebenarnya boleh saja,,cukup masuk akal,,walaupun seharusnya orang yang menciptakan itu harus kita jitak beberapa kali.

Mungkin para dokter jika mendengarnya,akan berkata “Tulisan gue juga gak segitunya keles. . .” . Untungnya mereka pada dokter cukup berbaik hati untuk tidak melaporkan kepada pihak berwenang atas tindakan pencatutan profesi baik,atau mungkin pencemaran profesi baik dan dan tindak kriminila yang berbunyi  “ini tulisan dokter,wajar kalo gak bisa dibaca”, Mereka para oknum yang menggunakan tameng tersebut sering lupa bahwa mereka mengobati luka hati saja tidak bisa,apa lagi mengobati para pasien.


Pesan untuk para oknum yang menggunakan nama baik seorang dokter untuk mendongkrak tulisan tangannya,
STOP. Berhentilah,,kasihanilah mereka para dokter,setiap hari sudah mendapat kan citra buruk karna hasil karya tangannya di selembar kertas untuk resep pasien. Belum lagi jika seorang dokter dianggap tidak peduli dengan pasien,hanya karna pasien yang tidak mampu paham dengan ‘sandi sandi’ di dalam resep untuk membeli obat di apotek,hingga akhirnya mereka tewas. Sangat memilukan bukan? Padahal yang mampu memecahkan kode resep dokter hanyalah para Apoteker. Dan mereka (Apoteker) adalah semacam Decoder kita agar kita selamat dunia akhirat,,dari penyakit yang diderita.

Mungkin Dilema semacam ini perlu kita akhiri masanya,kita harus ‘Move On’ dari belenggu ‘Tulisan Dokter’ ,dan beralih ke “Tulisannya Si Jodi emang begini,jadi maklumi saja kalau kita perlu merancang mesin decoder baru untuk mengolahnya menjadi informasi yang bisa diterima oleh manusia normal”.

Ditulis Oleh : Jodi Setiawan // 6:31 PM
Kategori: